Menaker: Perguruan Tinggi Harus Bangun Jejaring

  • February 5, 2020

Menaker: Perguruan Tinggi Harus Bangun Jejaring

Menaker Perguruan Tinggi Harus Bangun Jejaring

Perguruan tinggi memiliki peranan penting untuk membangun karakter dan sumber daya manusia (SDM) kompeten. Akibat peranan tersebut, perguruan tinggi diminta memiliki jejaring kerja sama dengan kalangan industri yang relevan dengan program studi atau fakultasnya.

Relevansi antara fakultas dengan industri dimaksudkan untuk mendekatkan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dengan dunia kerja (industri), sehingga para sarjana tidak menganggur.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri mengatakan itu, ketika menyampaikan orasi ilmiah pada acara wisuda diploma, sarjana, dan pascasarjana di Universitas Sains Al-Quran, Wonosobo, Jawa Tengah, kemarin.

“Membangun jejaring antara perguruan tinggi dan dunia industri sangat dibutuhkan. Dan upaya pendekatan ini, adalah agar sumber daya manusia yang dihasilkan perguruan tinggi bisa relevan dengan kebutuhan industrinya. Jadi kalanga perguruan tinggi jangan hanya menerapkan atau mengajarkan keterampilan lama,” kata Menaker Hanif.

Namun, hendaknya bisa menjawab tantangan pasar kerja yang dinamis

. Jurusan dan kejuruannya harus relevan dengan dunia kerja, baik dari unsur dosen, kurikulum, laboratorium dan semua peralatannya.

Tantangan dinamis itu karena saat ini dunia bergerak cepat, dengan perkembangan teknologi yang menghadirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Oleh karenanya, kurikulum yang  diajarkan di kampus harus sesuai dengan perubahan jaman dan kebutuhan industri.

Dalam tiga tahun terakhir, kata Hanif, angka pengangguran di Indonesia terus mengalami penurunan. Namun, persentase pengangguran dengan tingkat pendidikan tinggi justru makin naik.

Kondisi ini, ditimbulkan karena adanya mismatch atau ketidak sesuain antara output

lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

“Angka perbandingan mismatch terbilang tinggi. Dalam ukuran 10 orang lulusan perguruan tinggi, hanya tiga sampai empat orang saja yang match. Tentunya ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi,” katanya.

Selain persoalan mismatch, lulusan perguruan tingg

i juga dihadapkan pada persoalan under qualification. Yakni, lulusan perguruan tinggi masih berada di bawah standar kompetensi.

 

Baca Juga :

Riska

E-mail : admin@7-ksa.net