MELENGKAPI TES DALAM SIKLUS PENJUALAN

  • January 11, 2020

MELENGKAPI TES DALAM SIKLUS PENJUALAN

MELENGKAPI TES DALAM SIKLUS PENJUALAN

MELENGKAPI TES DALAM SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN REKENING PIUTANG
1. Tujuan audit atas saldo accounts receivable

a) Detail tie-in: accounts receivable dibuat aging sesuai dengan master file.

b) Existence: piutang usaha yang dicatat ada

c) Completeness: semua piutang usaha telah dicata

d) Accuracy: pencatatan piutang usaha akurat

e) Classification: pengklasifikasian piutang usaha tepat

f) Cut off: pencatatan piutang usaha terjadi pada periode yang sesuai

g) Realizable value: piutang usata dicatat memadai pada nilai yang dapat direalisasi

h) Rights: piutang usaha sah milik klien

i) Presentation and disclosure: penyajian dan pengungkapannya telah memadai

2. Langkah-langkah dalam menyusun kertas kerja perencanaan bukti

a) Menentukan materialitas dan menetapkan risiko audit beserta inherent risk atas accounts receivable.

b) Menetapkan control risk atas siklus sales and collection.

c) Merancang dan melaksanakan tes atas kontrol dan substantif tes atas transaksi dalam siklus sales and collection.

d) Merencanakan dan melaksanakan prosedur analitis atas saldo accounts receivables.

e) Merencanakan tes mendetail atas saldo accounts receivable untuk memenuhi tujuan audit atas accounts receivable.

3. Pengujian terinci yang terpenting yang dilakukan dalam pengujian accounts receivable adalah konfirmasi.

a) Accounts receivable ditambahkan dengan benar dan sesuai dengan master file dan buku besar

b) Accounts receivable yang tercatat benar-benar ada

c) Accounts receivable seluruhnya tercata

d) Accounts receivable dicatat dengan akurat

e) Accounts receivable diklasifikasikan dengan layak

f) Pisah batas telah tepat

g) Accounts receivable dicatat pada realizable value

h) Klien berhak atas Accounts receivable

i) Accounts receivable telah disajikan dan diungkapkan dengan layak

4. AICPA mensyaratkan dilakukannya konfirmasi atas account receivable kecuali jika:

a) jumlahnya tidak material

b) konfirmasi yang diterima lambat dan diragukan keandalannya

c) inherent risk dan control risk rendah sehingga dapat digunakan prosedur alternatif pengumpulan bukti.

5. Keputusan penting dalam melakukan konfirmasi di antaranya:

a) Jenis konfirmasi positif (harus dijawab apakah sesuai atau tidak) atau negatif (hanya perlu dijawab jika tak sesuai). Konfirmasi negatif dilakukan (dan sebaliknya) bila:

Ø Jumlah satuan accounts receivable banyak, namun nilainya masing-masing kecil.

Ø Control risk dan inherent risk rendah.

Ø Tidak ada alasan konfirmasi itu tidak akan diperhatikan.

b) Waktu konfirmasi, sedekat mungkin dengan tanggal neraca.

c) Jumlah sampel yang akan dikonfirmasi.

d) Pemilihan item yang akan diuji, biasanya dilakukan dengan stratifikasi.

6. Jika konfirmasi positif tidak ditanggapi, auditor perlu menguji lagi antara lain

1. Penerimaan kas kemudian

2. Salinan faktur penjualan

3. Dokumen pengiriman

4. Korespondensi dengan klien

7. Ketidaksesuaian konfirmasi dapat terjadi karena pembayaran telah dilakukan tapi klien belum menerimanya untuk dicatat, barang belum diterima, barang telah dikembalikan, dan kekeliruan klerikan dan jumlah yang diperselisihkan

Baca Juga :

AUDIT ATAS SIKLUS PENGGAJIAN DAN KEPEGAWAIAN

AUDIT ATAS SIKLUS PENGGAJIAN DAN KEPEGAWAIAN

  • January 11, 2020

AUDIT ATAS SIKLUS PENGGAJIAN DAN KEPEGAWAIAN

AUDIT ATAS SIKLUS PENGGAJIAN DAN KEPEGAWAIAN
AUDIT ATAS SIKLUS PENGGAJIAN DAN KEPEGAWAIAN
  1. Siklus ini pentingkarena
  2. Gaji, upah, dan PPh pegawai merupakan komponen utama pada kebanyakan perusahaan.
  3. Beban tenaga kerja menjadi pertimbangan penting dalam penilaian persediaan.
  4. Penggajian merupakan bidang yang banyak menimbulkan pemborosan karena inefisiensi atau fraud.
  5. Perbedaan siklus ii dengan siklus lainnya
  6. Hanya ada 1 golongan transaksi penggajian
  7. Transaksi-transaksi lebih signifikan daripada akun neraca terkait
  8. Pengendalian internalnya biasanya efektif
  9. Audit atas siklus ini terdiri atas
  10. Peroleh pemahaman atas SPI
  11. Penetapan risiko pengendalian
  12. Pengujian pengendalian
  13. Pengujian substantif atas transaksi
  14. Pengujian analitis dan pengujian terinci atas saldo
  15. Tujuan audit atas transaksi penggajian
  16. Keberadaan: gaji dibayar untuk pekerjaan yang benar-benar dilakukan
  17. Kelengkapan: semua transaksi penggajian dicatat
  18. Akurasi: penggajian dicatat pada jumlah jam kerja dan tingkat upah aktual, pemotongan sebagaimana mestinya
  19. Klasifikasi: transaksi penggajian diklasifikasikan secara memadai
  20. Tepat waktu: pencatatan transaksi tepat waktu
  21. Posting dan pengikhtisaran: transaksi dimasukkan pada berkas induk penggajian dan diikhtisarkan dengan semestinya.

Dokumen sumber yang independen untuk verifikasi intern atas informasi upah:

  1. Berikut ini adalah fungsi, dokumen terkait, dan pengendalian intern
  2. Kepegawaian dan Penempatan Pegawai :

1) Catatan kepegawaian ( personnel record ).

2) Formulir otorisasi pengurangan ( deduction authorization form ).

3) Formulir otorisasi tarif ( rate authorization form ).

Berguna untuk memberitahu petugas pengelola waktu dan penyiapan pembayaran gaji atas pegawai baru, otorisasi perubahan awal dan periodik atas tarif pembayaran , dan tanggal pemutusan hubungan kerja.

  1. Pengelolaan Waktu dan Penyiapan PembayaranGaji :

1) Kartu Absen ( time card )

2) Tiket Waktu Kerja ( job time ticket )

3) Laporan Ikhtisar Penggajian ( summary payroll report ).

4) Jurnal Penggajian ( Payroll journal ).

5) Berkas Induk Penggajian ( payroll master file ).

Pengendalian internal: penggunaan pencatat waktu atau metode lain untuk menjamin bahwa pegawai dibayar menurut jam kerja.

  1. Pembayaran Gaji:

1) Cek Gaji ( payroll check ), untuk mencegah transaksi pembayaran gaji yang tidak diotorisasi.

Pengendalian internal: pembatasan otorisasi penandatanganan cek oleh orang yang tidak mempunyai akses terhadap pengedalian waktu atau penyiapan gaji, distribusi gaji oleh orang yang tidak terlibat fungsi lain, penyetoran kembali gaji yang tdak diambil.

d. Surat Pemberitahuan Pajak, Penyiapan Surat Pemberitahuan dan Pembayaran Pajak

1) untuk menginformasikan kapan setiap formulir harus diarsip , mencegah kekeliruan dan kewajiban potensial untuk pajak dan sanksi.

Pengendalian internal: penetapan kebijakan yang jelas mengenai kapan setiap formulir harus diarsip.

  1. Pengujian pengendalian dan pengujian atas transaksi
  2. Pahami SPIpenggajian dan kepegawaian.
  1. Tetapkan risiko pengendalian yang direncanakan.
  2. Evaluasi manfaat dan biaya dari menguji pengendalian.
  3. Rancangan pengujian atas pengendalian dan pengujiansubstantif atas transaksi untuk memenuhi tujuan audit transaksi.

6. Pengendalian Intern, Pengujian atas Pengendalian , dan Pengujian Substantif atas Transaksi

Pengujian atas transaksi dilaksanakan untuk memverfikasi saldo dalam siklus penggajian dan kepegawaian.

Pengujian atas pengendalian dilaksanakan apabila tidak ada bahan bukti dari pihak ketiga yang independen.

Aspek siklus penggajian dan kepegawaian dan pengujian atas transaksi terkait , yang tidak terdapat pada bab sebelumnya :

  1. Penyiapan Surat Pemberitahuan Pajak.
  2. Pembayaran pajak penggajian yang dipotong dan pemotongan lain dengan tepat waktu.

7. Auditor perlu memperluas auditnya apabila:

  1. Penggajian secara signifikan mempengaruhi akun persediaan.
  2. Auditor merasa adanya kemungkian transaksi penggajian yang curang akibat kelemahan SPI.

Pertimbangan lain: penyiapan SPT tepat waktu, pembayaran potongan pajak dan potongan lainnya tepat waktu, dan pengisian kembali akun gaji impres.

  1. Pengujian untuk penggajian fiktif

Meliputi pengujian untuk dua macam fraud :

  1. Pegawai fiktif, penerbitan cek gaji kepada orang yang tidak bekerja bagi perusahaan.

Prosedur yang ditempuh : membandingkan nama-nama pada cek dengan kartu absen dan catatan lain, menelusuri transaksi jurnal penggajian , prosedur pengujian kelayakan penanganan pemberhentian pegawai.

  1. Jam kerja yang tidak benar, pegawai melaporkan melebihi jam kerja yang aktual.

Prosedur : merekonsiliasi total jam yang dibayar dengan catatan independen jam kerja.

Selain itu diperhatikan penyiapan SPT, pembayaran potongan lainnya, dan pengisian kembali akun gaji kecil.

Sumber : https://synthesisters.com/

ASSUMSI-ASSUMSI CAPM

ASSUMSI-ASSUMSI CAPM

  • January 11, 2020

ASSUMSI-ASSUMSI CAPM

ASSUMSI-ASSUMSI CAPM
ASSUMSI-ASSUMSI CAPM

1.Pasar Modal sangat effisien,dimana para investor dapat memperoleh informasi yang lengkap,tidak ada biaya-biaya transaksi dan tidak ada pembatasan-pembatasan dalam melakukan investasi dan tidak ada investor yang cukup kuat untuk mempengaruhi harga pasar suatu surat berharga.

2.Para investor umumnya mempunyai harapan yang sama mengenai keuntungan(expected return yang sama),dan juga resiko yang diperkirakan(varian/standar deviasi yang sama) untuk setiap surat berharga.

3.Perusahaan bermaksud membiayai proyek investasi secara penuh dengan modal sendiri.

4.Para investor bersifat risk Averse(menolak resiko).

5.Terdapat peluang meminjam atau meminjamkan dengan bunga yang sama.

TEORI ARBITRASE HARGA (ARBITRAGE PRICING THEORY)

Arbitrase adalah memperoleh laba tanpa resiko dengan memanfaatkan peluang perbedaan harga aset atau sekuritas yang sama.Sebagai taktik investasi yang digunakan secara luas ,arbitrase biasanya meliputi penjualan sekuritas pada harga yang relatip tinggi dan kemudian membeli sekuritas yang sama (berfungsi sama ) pada harga yang relatip lebih rendah.

Apakah portfolio Arbitrase itu ? Yaitu dengan syarat :

1.Portfolio yang tidak memerlukan tambahan Dana dari investor.Jika Xi menotasikan perubahan kepemilikan investor sekuritas i ( i= 1,2,3) ( dan juga proporsi sekuritas i di portfolio arbitrase )

2.Portfolio arbitrase tidak memiliki sensivitas portfolio terhadap faktor/variable apapun.,karena sensivitas portfolio terhadap faktor adalah rata-rata tertimbang dari sensivitas sekuritas di portfolio terhadap faktor tersebut.

Terdapat dua persamaan dengan 3 variable yang tidak diketahui y.i x1 ,x2,x3,yang berarti terdapat jumlah kombinasi nilai X1,X2,X3 yang tidak terbatas yang memenuhi kedua persamaan tersebut.

X1 + X2 + X3 =0

Cara untuk menemukan satu kombinasi adalah dengan memasukkan 0,1 ke X1( artinya menambah kepemilikan 10% saham 1),hal ini akan menghasilkan dua persamaan dgn 2 variable.

0,1 + x2 + x3 = 0

Portfolio arbitrase potensial adalah portfolio berdasarkan proporsi tersebut,(arti minus adalah di jual ).

Untuk melihat,apakah calon portfolio ini adalah portfolio arbitrase,ekspektasi return harus ditentukan.Jika hasilnya positip,maka itulah portfolio arbitrase.

3.Persyaratan ketiga dan terakhir untuk portfolio arbitrase adalah:

X1.expected return (eR)1+ X2.1.eR2+X3.eR3 > 0

Sumber : https://belinda-carlisle.com/

INTERNALISASI BELAJAR DAN SPESIALISASI

  • January 4, 2020

INTERNALISASI BELAJAR DAN SPESIALISASI

INTERNALISASI BELAJAR DAN SPESIALISASI
INTERNALISASI BELAJAR DAN SPESIALISASI
Contoh pada artikel pada harian Kompas, hari Senin, tanggal 11 Februari 1985 :
Seminar Tentang Remaja
ANOMI DI KALANGAN REMAJA AKIBAT KEKABURAN NORMA.
Jakarta Kompas.
Masa remaja adalah masa transisi dan secara psikologis sangat problematis. Masa ini memungkinkan mereka dalam keadaan anomi (keadaan tanpa norma atau hukum) akibat kontradiksi norma maupun orientasi mendua. Dalam keadaan itu, sering kali muncul perilaku menyimpang atau kecenderungan melakukan pelanggaran. Dan juga memungkinkan mereka menjadi sasaran pengaruh media masa.
ORIENTASI MENDUA.
Menurut  Dr. Male : orientasi yang bertumpu pada harapan orang tua, masyarakat dan bangsa yang sering bertentangan dan keterikatan serta loyalitas terhadap teman sebayanya.
Menurut Zulkarimen Nasution : kondisi bimbang yang dialaminya para remaja menyebabkan mereka melahap semua isi informasi tanpa seleksi.
Dr. Malo : menyebabkan remaja nekad melakukan tindakan bunuh diri.
Menurut Enoch Markum : agar remaja harus diberi kesempatan berkembang dan beragumentasi.
Alternatif pemecahan masalah :
1. Mengaktifkan kembali fungsi keluarga, dan kembali pada pendidikan agama karena hanya agama yang bisa memberikan pegangan yang mantap.
2. Menegakan hukum akan berpengaruh besar bagi remaja dalam proses pengukuhan identitas dirinya.
PERANAN MEDIA MASA.
Ciri-ciri periode peralihan remaja :
1. Keinginan memenuhi dan menyatakan identitas diri.
2. Kemampuan melepas diri dari ketergantungan orang tuanya.
Ciri-ciri menyebabkan kecenderungan remaja melahap begitu saja arus informasi dengan selera dan keinginan mereka. Sebagai jalan keluar ahli komunikasi ini melihat perlunya membekali remaja dengan keterampilan berinformasi yang mencakup kemampuan menemukan, memilih, menggunakan dan mengevaluasi informasi. Keterampilan ini bisa disisipkan di sekolah, di lingkungan dan di keluarga.
PERLU DIKEMBANGKAN.
Bahwa masalah kemudahan dapat ditinjau dari 2 asumsi :
1. Penghayatan mengenai proses perkembangan bukan sebagai suatu kontinum yang sambung menyambung tetap fragmentasi, terpecah-pecah, dan setiap fragmen mempunyai artinya sendiri-sendiri. Setiap masa perkembangan hanya dapat dimengerti dan dinilai dari masa itu sendiri. Masa kanak-kanak hanya dapat diresapi karena keanakannya masa muda karena sifat-sifatnya yang khas pemuda, dan masa orang tua yang diidentikan dengan stabilitas hidup dan kemapanan.
2. Posisi pemuda dalam arah kehidupan itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh suatu anggapan bahwa pemuda tidak mempunyai andil yang berarti dalam ikut mendukung proses kehidupan bersama dalam masyarakat. Pemuda sebagai suatu subyek dalam hidup, tentulah mempunyai nilai-nilai sendiri dalam mendukung dan menggerakkan hidup bersama itu. Hal ini hanya bisa terjadi apabila tingkah laku pemuda itu sendiri ditinjau sebagai interaksi terhadap lingkungannya dalam arti luas.
Hukum

Hukum

  • January 4, 2020

Hukum

 

 

Hukum
Hukum
A. Hukum
Sukar untuk memberikan suatu definisi tentang. Beberapa perumusan yang ada, masing-masing menonjolkan segi tertentu dari hukum.
a. Ciri-ciri dan sifat hukum.
Ciri hukum adalah :
– Adanya perintah atau larangan.
– Perintah atau larangan itu harus dipatuhi setiap orang.
Agar tata tertib dalam masyarakat dalam dilakasanakan dan tetap terpelihara dengan baik, perlu adanay peraturan yang mengatur dan memaksa tata tertib itu untuk ditaati yang disebut kaidah hukum.b. Sumber-sumber hukum.
Ialah segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang memaksa, yang kalau dilanggar dapat mengakibatkan sangsi yang tegas dan nyata.
Sumber hukum dapat ditinjau dari segi formal dan segi material.
Sumber hukum material dapat kita tinjau lagi dari berbagai sudut, misalnya dari sudut politik, sejarah, ekonomi dan lain-lain.
Sedangkan sumber hukum formal antara lain :
1. Undang-undang (Statute)
2. Kebiasaan (Costum)
3. Keputusan-keputusan hakim (Yurisprudensi)
4. Traktat (Treaty)
5. Pendapat sarjana hukum

c. Pembagian Hukum
1. Menurut “sumbernya” hukum dibagi dalam :
– Hukum undang-undang.
– Hukum kebiasaan.
– Hukum traktat.
– Hukum yurisprudensi.

2. Menurut “bentuknya” hukum dibagi dalam :
– Hukum tertulis.
– Hukum tertulis yang dikodifikasikan.
– Hukum tertulis tak dikodifikasikan.
– Hukum tak tertulis.
3. Menurut “tempat berlakunya” hukum dibagi dalam :
– Hukum nasional.
– Hukum internasional.
– Hukum asing.
– Hukum gereja.
4.Menurut “waktu belakunya” hukum dibagi dalam :
– Ius costitutum (hukum positif).
– Ius constituendum.
– Hukum asasi (hukum alam).
5. Menurut “cara mempertahankannya” dibagi dalam :
– Hukum material.
– Hukum formal (hukum proses atau hukum acara).
6. Menurut “sifatnya” hukum dibagi dalam :
– Hukum yang memaksa.
– Hukum yang mengatur (pelengkap).
7. Menurut “wujudnya” dibagi dalam :
– Hukum objektif.
– Hukum subyektif.
8. Menurut “isinya” dibagi dalam :
– Hukum privat (hukum sipil).
– Hukum publik (hukum negara).Negara mempunyai tugas pokok yaitu :
1. Mengatur dan mengendalikan gejala-gejala kekuasaan asosial.
2. Mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongan.

Untuk menganalisa lebih tajam apa sebenarnya hukum, maknanya, peranannya, dampaknya dalam proses interaksi dalam masyarakat, perlu dipelajari 10 aspek penganalisa yaitu :
1. Jangan mengidentifikasikan “hukum” dengan kebenaran keadilan”.
2. Tidak dengan sendirinya harus adil dan benar.
3. Hukum tetap mengabdikan diri untuk menjamin kegiatan masa sistem dan bentuk pemerintahan.
4. Meskipun mengandung unsur keadilan atau kebaikan tidak selamanya disambut dengan tangan terbuka.
5. Hukum dapat diidentifikasikan dengan kekuatan atas kekuasaan.
6. Macam-macam hukum terlalu dipukulratakan.
7. Jangan apriori bahwa hukum adat lebih baik dari hukum tertulis.
8.Jangan mencapur-adukan substansi hukum dengan cara atau proses sampai terbentuk dasar diundangkannya hukum.
9. Jangan mencampur-adukan “law in activis” dengan “law in books” dari aparat penegak hukum.
10. Jangan menganggap sama aspek terjang penegak hukum dengan hukum.

PERBEDAAN SISTEM PELAPISAN MENURUT SIFATNYA

  • January 4, 2020

PERBEDAAN SISTEM PELAPISAN MENURUT SIFATNYA

PERBEDAAN SISTEM PELAPISAN MENURUT SIFATNYA

Menurut sifatnya, maka sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi :
1. Sistem pelapisan masyarakat yang tertutup.

Sistem pelapisan tertutup kita temui misalnya di India yang masyarakatnya mengenal sistem kasta. Sebagaimana kita ketahui masyarakat terbagi ke dalam :
a. Kasta brahmana.
b. Kasta ksatria.
c. Kasta waisya.
d. Kasta sudra.
e. Paria.

2. Sistem pelapisan masyarakat yang terbuka.
Di dalam sistem ini setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk jatuh kelapisan yang ada di bawahnya atau naik ke lapisan ynag di atasnya. Dalam hubungannya dengan pembangunanmasyarakat, sistem pelapisan masyarakat yang terbuaka sangat menguntungkan. Sebab setiap warga masyarakat diberi kesempatan untuk bersain dengan yang lain.

E. BEBERAPA TEORI TENTANG PELAPISAN SOSIAL.

Bentuk konkrit daripada pelapisan masyarakat ada beberapa macam. Ada yang membagi pelapisan masyarakat seperti berikut ini :
1. Masyarakat terdiri dari kelas atas dan kelas bawah.
2. Masyarakat terdiri dari tiga kelas kelas atas, kelas menengah, dan kelas ke bawah.
3. Sementara itu ada pula sering kita dengan : kelas ke atas, kelas menengah, kelas menengah ke bawah dan kelas ke bawah.

Pada umumnya golongan yang menduduki kelas bawah jumlah orangnya daripada kelas menengah, demikian seterusnya semakin tinggi golongannya semakin dikit jumlah orangnya. Dengan demikian sistem pelapisan masyarakat itu mengikuti bentuk piramid.
Orang dapat menduduki lapisan tertentu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti misalnya : keturunan, kecakapan, pengaruh, kekuatan dan lain sebagainya.
Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial adalah :
1. Ukuran kekayaan.
2. Ukuran kekuasaan.
3. Ukuran kehormatan.
4. Ukuran ilmu pengetahuan.

Sumber : https://multi-part.co.id/

Kisah Dewi, dari Pekerja Kantoran Menjadi ‘Ratu Aspal’

  • December 22, 2019

Kisah Dewi, dari Pekerja Kantoran Menjadi ‘Ratu Aspal’

Kisah Dewi, dari Pekerja Kantoran Menjadi ‘Ratu Aspal’

Mendapatkan pekerjaan impian menjadi hal yang diidamkan sebagian besar orang

. Namun untuk mempertahankannya, ternyata bisa menjadi tantangan sendiri, tak terkecuali bagi Ika Dewi Sulistiani.

Perempuan kelahiran Surabaya itu mulanya bekerja sebagai tim administrasi cadangan di sebuah perusahaan. Dewi saat itu dikontrak selama satu tahun untuk menggantikan karyawan yang sedang cuti melahirkan. “Pekerjaan itu saya terima karena saya butuh biaya untuk hidup saya dan keluarga walaupun sebentar,” ujarnya.

Namun setelah sampai di penghujung kontraknya, Dewi mulai khawatir

karena belum mendapatkan pekerjaan lain. “Waktu itu kurang dari satu bulan, kontrak saya mau habis tapi saya belum mendapat pekerjaan lain. Perusahaan juga menyarankan untuk mencoba mencari-cari pekerjaan lain di sisa satu bulan tersebut,” katanya.

Dalam masa pencarian pekerjaan, rupanya Dewi mendapat keberuntungan. Ia menemukan lowongan yang diiklankan di media sosial Facebook.

“Saat itu kebetulan ada yang pasang lowongan Grab. Menurutku syaratnya masuk akal. Dari situ saya langsung ingin coba. Pas daftar, saya sempat minder, yang daftar laki-laki semua sedangkan saya perempuan sendiri. Tapi meskipun saya minder saya tetap duduk di situ,” ujarnya.

Setelah selesai mendaftar dan lolos, ia disarankan untuk online training

lalu tanda tangan kontrak dan mengambil atribut. Saat pertama bekerja awalnya Dewi mengaku masih malu-malu kucing, sampai akhirnya Dewi berniat untuk sungguh-sungguh bekerja. Ia aktif mencari order dari pukul 06.00 sampai pukul 21.00.

Menurut Dewi, meski pekerjaannya terkesan sepele wara-wiri di jalan raya, tetapi ia berprinsip untuk menjaga lisan dan menjaga diri. “Saya menanamkan ke diri sendiri, walaupun pekerjaan ini fleksibel, tetapi kita tidak boleh mencari uang sesuka hati saja. Harus tetap kerja keras,” ujarnya.

 

Baca Juga :

‘Rahasia Dapur’ Mobil Balap Lawas di Film Ford v Ferrari

  • December 22, 2019

‘Rahasia Dapur’ Mobil Balap Lawas di Film Ford v Ferrari

‘Rahasia Dapur’ Mobil Balap Lawas di Film Ford v Ferrari

Film Ford v Ferrari telah resmi dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 15 November 2019.

Karya sutradara James Mangold ini menampilkan dua mobil balap utama yakni Ford GT40 dan Ferrari 330 P3.

Film ini mengangkat kisah tentang keinginan Ford menjajal balapan, namun masalahnya produsen asal AS ini tak punya mobil balap. Cara paling cepat mewujudkan itu yaitu membeli produsen mobil balap Ferrari, namun usaha itu gagal.

Lihat juga:Sinopsis ‘Ford v Ferrari’, Kisah Nyata Dunia Balap
Ford memutuskan membangun tim sendiri dengan dana yang diajukan buat membeli Ferrari. Ford memerintahkan pemodifikasi Carroll Shelby (Matt Dmaon) mewujudkan itu kemudian dia mengget Ken Miles (Christian Bale) untuk menggarap mobil balap khusus.

Keduanya optimis mampu membuat Ford sanggup bersaing melawan Ferrari

di ajang balap ketahanan 24 jam Le Mans (24 Hours of Le Mans) di Prancis pada 1966.

Mobil balap pada era itu jauh dari kecanggihan teknologi masa kini. Dilansir dari Popular Mechanics, GT40 Mark II 1966 merupakan mobil yang dirancang untuk perjalanan jarak jauh dan punya kenyamanan tinggi buat penumpang.

Walau begitu, mobil ini disebut tidak memiliki power steering, rem canggih, dan sistem keamanan elektronik. GT40 Mark II yang diperkuat mesin Ford V8 7.000 cc V8 kemudian memenangkan 24 Hours of Le Mans berturut-turut mulai 1966 hingga 1969 sekaligus memutus kedigdayaan Ferrari.

Kemenangan Ford tersebut juga tak bisa didapat tanpa peran kedua pengendara yakni Bruce McLaren dan Chris Amon yang diperankan oleh Benjamin Rigby dan Brent Pontin.

Ferrari 330. (auto.ferrari.com)

Lihat juga:Zaman Berubah, Muscle Car Amerika Berubah Jadi Mobil Listrik

Menampilkan mobil balap lawas untuk film bukan perkara mudah. Diceritakan Los Angeles Times, sebagian mobil-mobil yang ada di film dengan pendanaan US$97 juta merupakan hasil restorasi dan modifikasi yang dibuat mirip seperti aslinya.

Sebagian mobil lainnya merupakan versi modern yang dipinjam dari Shelby Legendary Cars dan Superformance, satu-satunya perusahaan yang memiliki lisensi membangun dan menjual Ford GT40.

Film ini fokus pada Ford yang berhasil mengalahkan Ferrari sebagai juara bertahan. Ferrari berlomba menggunakan 330 P3 berwarna merah dengan mesin V12 4.000 cc.

 

Sumber :

https://namabayi.co.id/faster-and-safer-apk/

SDN Cibalagung 3 Makin Sejuk

  • November 8, 2019

SDN Cibalagung 3 Makin Sejuk

SDN Cibalagung 3 Makin Sejuk

SDN Cibalagung 3 Kota Bogor, terus meningkatkan pendidikan karakter dan cinta

lingkungan terhadap peserta didiknya. Karena, hal tersebut belum berarti banyak, jika tidak didukung oleh karakter dan lingkungan sekolah yang berlokasi di Kelurahan Pasir Kuda, Kecamatan Bogor Barat.

Kepala SDN Cibalagung 3 Kota Bogor Isti saat ditemui Metropolitan di sekolahnya mengatakan

, bahwa lingkungan belajar, khususnya lingkungan fisik sangat berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM) di sekolah ini.

“Apalagi bila suasana yang nyaman dan menyenangkan akan mendukung proses belajar secara optimal. Jadi semuanya itu berasal dari lingkungan yang bersih, segar dan asri,” kata Isti, kemarin.

Menurutnya, untuk mewujudkan hal itu, ia selalu menekankan kepada warga sekolah

selalu melakukan perindangan lingkungan sekolah. Di antaranya, melakukan penanaman tumbuhan hijau di dalam lingkungan sekolah. Karena, nantinya akan menjadi paru-paru sekolah.

“Jika suasana sekolah menjadi sejuk dan segar, yah sudah pasti akan mendukung konsentrasi belajar siswa,” pungkasnya.

 

Baca Juga :

Pemkab Bogor Genjot RLS

  • November 8, 2019

Pemkab Bogor Genjot RLS

Pemkab Bogor Genjot RLS

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menargetkan peningkatan Rata-rata Lama Sekolah

(RLS) sembilan tahun. Salah satunya melalui penguatan program pembelajaran nonformal kejar Paket C. Di mana jumlah kepesertaan program tersebut terus meningkat setiap tahunnya.

Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non-Formal (PNF) Disdik Kabupaten Bogor, Amsohi,

menjelaskan, jumlah peserta yang mengikuti kejar Paket C di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan tiga kali lipat. Dari data Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor, peserta tahun ini mencapai 12.000 orang. Sedangkan tahun sebelumnya hanya 4.000 orang. Peningkatan tersebut diprediksi lantaran kesadaran masyarakat untuk mendapatkan ijazah setara SMA semakin tinggi. “Mereka adalah siswa yang sempat dikeluarkan dari sekolah reguler,” katanya.

Tidak hanya Paket C, sambung Amsohi, peningkatan juga terjadi pada kejar Paket B atau setara dengan SMP

. Tahun lalu, peserta mencapai 6.000 orang dan meningkat jadi 9.000 peserta. Tapi, kondisi berbalik terjadi pada peserta kejar Paket A atau setara SD yang mengalami penurunan sekitar 300 orang. Yakni dari 3.000 peserta pada 2017, tahun ini hanya 2.700 orang.

Amsohi melihat penurunan itu dikarenakan jumlah anak usia SD yang putus sekolah telah berkurang. “Masyarakat semakin sadar bahwa anak-anak butuh pendidikan dasar,” ucapnya.

PNF ini, tambah dia, tengah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor guna mencapai target RLS sembilan tahun. Menurut data Badan Pusat Statistik, RLS Kabupaten Bogor baru mencapai 7,7 tahun atau setara kelas 2 SMP. Salah satu upaya yang sudah dilakukan adalah mengadakan 46 Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) untuk kejar Paket B dan C dengan menggunakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/sejarah-tari-barong-bali/